Lekra (1950-1965), Sejarah Organisasi Kebudayaan Indonesia yang Fenomenal.

Tanggal 17 Agustus 1950. Di Jakarta, sejumlah tokoh masa itu, dari politikus, seniman, hingga politikus-seniman, mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Maksud pendirian lembaga ini adalah: “Menyadari bahwa Rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan, dan bahwa pembangunan kebudayaan Indonesia baru hanya dapat dilakukan oleh Rakyat, maka pada hari 17 Agustus 1950 didirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat, disingkat LEKRA.
LEKRA dikatakan sebagai sejarah organisasi kebudayaan yang fenomenal dikarenakan pada masa itu pengikut LEKRA sudah mencapai puluhan ribu orang. Sebelum kemerdekaan Indonesia dan sejak naiknya Jenderal Soeharto menjadi presiden, tidak ada organisasi kebudayaan yang mendekati skala massal ini. Pengaruh LEKRA pada tahun 1950-an dan 1960-an sangat luas. Tidak hanya di bidang seni modern seperti seni rupa dan sastra, tapi juga sampai cabang-cabang seni rakyat seperti ketoprak, tari tradisional, pesindenan, pedalangan dan seni batik.
Tahun-tahun tersebut juga merupakan tahun di mana Indonesia sedang dalam pengembangan politik yang kuat. Salah satu wacana yang dipopulerkan oleh para pendiri LEKRA pada waktu itu adalah “Politik adalah Panglima” yang penjabarannya tertuang dalam Konsep Unggulan Lekra pada waktu itu yakni “kONSEP 1-5-1”
1. = Politik adalah panglima. Politik sebagai cara dan orientasi berpikir, bukan organisasi dan bukan orang.
> Memadukan realisme revolusioner dengan romantisme revolusioner. Realitas yang mengarah ke pembaruan yang lebih baik dalam seni yang diungkapkan dengan estetika yang romantis, indah dan penuh harapan.
> Memadukan kreativitas individu dengan kearifan massa. Agar karya tidak bertentangan dengan tradisi (baik), adat dan cita-cita rakyat.
> Meluas dan Meninggi. Sebaran karya melebar dan kualitasnya tetap unggul.
> Tinggi mutu artistik dan ideologi. Isi dan bentuk seni agar terpadu harmonis.
> Memadukan tradisi (baik) dengan kekinian revolusioner. Tradisi yang positif dipadukan dengan cita-cita modern.
= 1. Turun ke bawah (masyarakat). Melalui wawancara, investigasi mendalam terkait dengan kondisi dan harapan masyarakat.
Namun, sangat disayangkan masa kejayaan LEKRA harus berakhir setelah 15 tahun berdiri, tepatnya setelah peristiwa G30S PKI, di mana pada waktu itu LEKRA dianggap sebagai onderbouw PKI. Pelaku kebudayaan Lekra—termasuk pelukis, pematung, dan pegrafis pembuat poster yang pernah bergabung dalam sanggar-sanggar seni rupa beraroma LEKRA—ditangkapi. Disiksa serta dijebloskan ke bui.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Juche Ideologi Dari Korea Utara

Sejarah Ham (Hak asasi Manusia)